Polemik Keterlambatan Konversi Mitan di Kota Mojokerto
Antrean Tiap Hari, 18 Ribu KK Gigit Jari
Bantuan konversi minyak tanah (mitan) ke gas elpiji di Kota Mojokerto belakangan terus menjadi polemik. Khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah Kecamatan Magersari.
Setidaknya 18.000 kepala keluarga (KK) terbagi atas 10 kelurahan yang menjadi sasaran bantuan gratis itu gigit jari. Selain diberatkan dengan kebutuhan harga bahan pokok yang kian menjerat leher, mereka masih dipusingkan dengan atrean mitan yang kerap terjadi. Meski jatah mitan itu belum dihapus, namun untuk mendapatkan warga harus rela berdesakan. Bahkan tidak sedikit mengalami luka-luka guna memperjuangkan mitan sebanyak 10 liter. Kepada masyarakat pangkalan ada yang menjual sesuai HET Rp 2.850 ada pula diatas HET dari Rp 4.000 - Rp 5.000 perliter. "Harus sampai kapan kami antre terus seperti ini. Padahal di Kecamatan Pralon (Prajurit Kulon, Red) jauh hari mereka sudah menerima bantuan itu," ungkap Dewi Astutik warga Kelurahan Balongsari saat antre mitan di Jl Gajah Mada, beberapa waktu lalu.
Memang warga di 8 Kelurahan yang tinggal di wilayah Kecamatan Prajurit Kulon sebelumnya sudah menerima paket konversi. Tepatnya pada bulan Agustus 2009 lalu, sekitar 16.314 KK menerima bantuan tabung elpiji 3 kilogram. Meski sebelumnya dibagikan tanpa regulator dan slang elpiji, melainkan keresahan mereka tak separah yang tinggal di Kecamatan Magersari saat memasuki bulan September. "Dari dulu kita cuma diberikan janji-janji saja. Padahal saat pendataan KTP dan KK semua warga penerima sudah dipenuhi. Tapi itu sampai sekarang tak kunjung realisasi," tutur Fika, warga asal Kelurahan Wates. Antrean mitan yang terjadi selama ini bukan hanya di pangkalan Jl Gajah Mada. Di sejumlah lingkungan dan Kelurahan banyak pangkalan yang justru memanfaatkan moment itu. Mereka sengaja mendatangkan mitan dari daerah lain, seperti Jombang dan Kediri kemudian menjualnya jauh di atas HET. Meski tidak dapat dipungkiri, jika penjualan itu tak lebih sekedar untuk meraih keuntungan lebih besar. Dengan alasan harga DO (Delivery Order) mitan jauh lebih tinggi dari harga yang ditentukan pertamina Rp 13,5 juta pertangki atau 5.000 liter. Sedangkan harga yang harus dikeluarkan para pemilik pangkalan untuk mendatangkan mitan itu antara Rp 18 juta hingga Rp 27 juta. "Kalau kita menjual mitan sesuai HET jelas rugi. Sebab, untuk mendatangkan 5.000 liter biayanya cukup besar," ujar salah satu pemilik pangkalan. " Ada yang sampai Rp 27 juta pertangki," tambahnya.
Informasi yang berhasil dihimpun Radar Mojokerto, keterlamatan konversi di Kecamatan Magersari ini disebabkan banyak faktor. Pertama atas didistribusikannya konversi bulan Agustus, lalu pihak Kecamatan Magersari disebut-sebut pernah menolak. Sebab, pengiriman oleh surveyor PT Petrogas Jatim Utama (PJU) tabung elpiji dibagikan tanpa regulator dan slang elpiji. Karenanya, jika hal itu lantas diterima Kecamatan Magersari khawatir akan terjadi polemik di masyarakat. Lain halnya dengan Kecamatan Prajurit Kulon. Wilayah dengan 8 Kelurahan itu tetap memutuskan untuk menerima, walau tanpa dilengkapi regulator dan slang elpiji. Meski sempat memunculkan masalah, akibat pembagian yang tak lengkap itu, namun akhirnya warga menerima menyusul satu bulan kemudian regulator dan slang diterima tidak bersamaan. "Alasan kita menerima tanpa regulator dan slang dulu itu sudah atas kesepakatan kelurahan dan warga. Mereka khawatir jika nanti tidak kebagian," ungkap Camat Prajurit Kulon M. Ali Imron. "Tapi Alhamdulillah satu bulan kemudian surveyor bisa melengkapi kekurangan slang dan regulator," tambahnya.
Sementara itu, Camat Magersari Achmad Zainuddin menepis jika pihaknya pernah menolak distribusi konversi tanpa dilengkapi regulator dan slang. "Tidak ada yang pernah menolak distribusi konversi yang tak lengkap. Termasuk saya. Malahan kami selalu minta agar distribusi segera direalisasi meskipun tanpa slang dan regulator," terangnya. Sebaliknya mantan Lurah Kranggan itu menceritakan, dia bersama Camat Prajurit Kulon dan H Maskur pemilik Ekspedisi Pendistribusian Elpiji Bareng Jombang, sepakat menerima bantuan konversi dalam kondisi tidak lengkap. Saat itu, lanjut Zainuddin, stok tabung elpiji yang ada tidak dapat memenuhi sasaran dua kecamatan. Yakni berjumlah sekitar 17 ribu tabung. "Sehingga waktu itu habis untuk memenuhi kebutuhan di Kecamatan Pralon saja," bebernya. "Dan kita sepakat kalau tabung dikirim dulu," lanjutnya. Namun, setelah sasaran penerima di Kecamatan Prajurit Kulon sudah terpenuhi, Zainuddin mengaku pihaknya hanya dapat menunggu setelah beberapa kali dijanjikan. Termasuk oleh surveyor PJU yang menjalin kerjasama dengan H Maskur. "Sebenarnya kita sendiri juga menunggu. Tapi kenyataannya sampai sekarang tidak ada realisasi," keluhnya. (ris/nk)

Visitors :206359 Org
Hits : 723774 hits
Month : 4056 Users
Today : 155 Users
Online : 7 Users






